Wali Kota Bekasi Tinjau Hasil Perbaikan Jalan Jatimakmur, Pastikan Kelayakan dan…

Mengapa Driver Ojol Cocok Menjadi Ketua RT Atau RW! Apa Saja Kelebihannya

Pencarian Hari ke-4 untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Anak Krakatau

Kombes Pol Adhe Hariadi Resmi Jadi Kapolres Metro Jakarta Utara

Pemkot Bekasi Resmi Terapkan PJJ Sekolah, Antisipasi Sebaran Abu…

Sekda Kota Bekasi, Junaedi Buka Pelatihan Kota HAM, Dorong Tata Kelola…

PENGHAPUSAN BBNKB II: Gratis Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Ini Dia Daftar 3 Kapolres Polda Metro Jaya Diganti serta Kapolres di Polda Jabar

Semarak PNBK Jilid III Berbuah Kepedulian, Setengah Miliar Terkumpul untuk NTT

Waketum PM GATRA: Pemekaran Kabupaten Garut Solusi untuk Tingkatkan…

Komisi IV DPR

Temukan 1.015 Kontainer Sampah Impor

Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Perdagangan dan Sucofindo selaku BUMN yang berfokus pada layanan jasa pemeriksaan dan pengawasan perdagangan ekspor impor, melakukan inspeksi mendadak ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (23/1/2020).

Dalam sidak tersebut, Komisi IV DPR RI menemukan kontainer-kontainer berisi sampah dari luar negeri.

Seluruh kontainer merupakan milik PT New Harvestindo Internasional dan PT Advanve Recycle Teknologi.


Setelah tim Sidak sampai di lokasi, ternyata benar terdapat 70 kontainer sampah di Tanjung Priok dan akan bertambah lagi sebanyak 1.015 kontainer, masih berisi sampah. Jumlah tambahan itu akan masuk melalui seluruh pelabuhan di Indonesia.

Importir berargumentasi bahwa sampah tersebut diimpor untuk kepentingan bahan baku biji plastik sebagaimana diatur dalam peraturan Menteri Perdagangan.

Akan tetapi, dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa bahan baku yang diimpor haruslah bersih bukan sampah. Hampir terjadi ketegangan antara para anggota Komisi IV DPR RI dan petugas Sucofindo selaku surveyor impor sampah tersebut.

Setelah di tegur keras, akhirnya diakui bahwa barang impor tersebut adalah sampah, bukan bahan baku. Team Sidak merasa miris dengan hasil temuan ini karena sampah ini bisa lolos dan dianggap aman melalui jalur hijau.

Hari ini Indonesia sedang mengalami problem penanganan sampah di berbagai tempat, kok masih ada perusahaan pengimpor sampah dari luar negeri?

Padahal, untuk sekedar bahan baku biji plastik, para pemulung dan pengepul di Indonesia pun bisa mengumpulkan banyak sampah. Masa sih, importir mau bersaing dengan para pemulung dan para pengepul sampah itu?

Jika ditinjau dari persfektif pergaulan antar negara, fenomena ini sama saja dengan menganggap Indonesia sebagai tempat sampah dunia. (bbs/ibz/sm/ist)