Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Pimpin Sertijab di Mabes Polri

Wali Kota Bekasi Resmikan Taman Rinjani di Harapan Jaya, Ruang Terbuka Untuk…

3 Tersangka Baru Ditetapkan Polisi dalam Kecelakaan Maut Kapal Virgo Transport

Tri Adhianto Dukung Kerja Sama Pemprov Jabar, Warga Bisa Berobat di RS Jaringan…

PWI Bekasi Raya Kecam Dugaan Pengusiran Wartawan oleh Kepala DLH

Transera Waterpark - FPP Kabupaten Bekasi, Teken MoU Wisata Edukasi Sejarah Islam

Menko Bidang PM, Cak Imin Sebut Vida Role Model, Wali Kota Bekasi Siapkan Perluas…

Guru Besar Prof. Dr. H. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., Menjabat Kapolda Metro Jaya

Tolak Sodetan Baru ..."

FORKABI Kota Tangerang Gelar Musda V, H. Dadang Andriani, S.T dan Saipul Basr…

Cakrawala Puisi 6

Ibu Mengepel Lantai Setiap Hari 

Painting:Ds Bre' Iswoyo



Ibu mengepel lantai setiap hari 

dan mewajibkan kami selalu mencuci tangan

sebelum dan sesudah 

melakukan apa saja. 


“Kita harus bersih,” katanya, 

“sebab kuman selalu tidak terduga.”


Memang,  kuman selalu tak terduga,  

maka menjadi bersih adalah niscaya. 


Kata ibu, udara berserbuk di sekitar kami

—mengandung debu, pasir, dan karbon. 

Juga suara-suara bising 

semacam fitnah 

selalu ingin masuk ke hati kami 

lewat telinga. Juga, gambar-gambar biru, 

hitam, abu-abu, dan jingga 

selalu menuntut mata merekamnya 

agar tertanam menjadi ingatan 

di kepala kami.


Ingatan yang abadi


Ibu mengepel lantai setiap hari.

Belakangan kami tahu kalau ibu

hanya ingin menghapus jejak ayah

dari rumah, dari kenangan, 

yang seluruhnya kesedihan.


Ibu hanya ingin tak sedih 

membayangkan ayah, 

sebelum laki-laki itu  menjelma jadi burung,  

sebelum terbang meninggalkan sarang. 


“Sebelum dia terkontaminasi,”  

Igau ibu dalam mimpi. 


Memang, ayah telah terkontaminasi, 

sejak kuman-kuman menggerogoti hatinya, 

hingga sering pulang tanpa membawa hati.


Tapi Ibu sebetulnya terkontaminasi, 

kuman-kuman lain menggerogoti hatinya, 

seperti sekawanan rayap

menggerogoti kaki-kaki meja. 


Sebelum rubuh, 

Ibu mengaduk karbol 

ke dalam gelas susu:


“Minumlah!” katanya, 

“Sebab bersih adalah niscaya!” 



•Budi Hatees

akudasi.jpgBudi Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada 3 Juni 1972. Menulis puisi, cerpen, esai, novel, dan melakukan penelitian. Karyanya disiarkan di Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Majalah Horison, Republika, Media Indonesia, dan puluhan buku. 


Saat ini menjadi peneliti di bidang komunikasi dan punya minat besar terhadap masalah sejarah dan kebudayaan.  Mendirikan media online,  mengelola Penerbit Pustaha, dan menjadi trainer dalam pelatihan menulis  secara online maupun offline.   


Selasa, Februari 08, 2022

Mata mata yang Mati Mengenaskan

18 Buah Langka Dari Kalimantan

CAKRAWALA

Follow:

Facebook  Twitter  Instagram  Youtube     

  satgasnasNews
  Satgasnas.com

Tidak ada komentar: