Menelusuri Pulau Weh Pulau Pembuangan dan Basis Militer Jepang
Pulau Weh di Sabang, Aceh, merupakan salah satu titik strategis di Selat Malaka. Posisinya yang tepat berada di persimpangan antara Samudera Hindia dan Selat Malaka menjadikannya titik persinggahan yang ideal bagi lalu lintas pertukaran komoditas dari Eropa, India dan Timur Tengah dengan Asia Timur.
Karenanya, jauh sebelum Temasek (Singapura) dan Batam berkembang seperti saat ini, Sabang menjadi pelabuhan utama dalam peta perdagangan internasional. Sejak masa Hindia Belanda, Sabang pun ditetapkan sebagai pelabuhan bebas bagi perdagangan internasional.
Mengenal Pulau WehPulau Weh di Sabang, Aceh, terbentuk dari letusan gunung berapi purba pada zaman Pleistosen yang membuatnya terpisah dari daratan utama Pulau Sumatra.
"Weh" berasal dari bahasa Aceh yang berarti pindah, lepas atau terpisah. Sedangkan terkait cerita lokal mengisahkan bahwa Pulau Weh dahulu menyatu dengan daratan Banda Aceh (kawasan Ulee Lheue). Akibat gempa bumi dan letusan gunung berapi purba, daratan tersebut terlepas dan membentuk pulau-pulau kecil, termasuk Pulau Weh.
Pada masa Sultan Aceh pernah menggunakan pulau terpencil ini sebagai tempat pengasingan bagi orang buangan. Perlu diketahui, sebelum Perang Dunia II, Sabang dan Pulau Weh menjadi pelabuhan dagang yang sangat penting di Selat Malaka. Setelah Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, jalur pelayaran dunia melewati Selat Malaka. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Sabang sebagai dermaga dan pelabuhan bebas karena perairannya yang dalam serta terlindung secara alami.
Sabang bahkan sempat jauh lebih ramai dan penting dibandingkan Singapura pada masa itu. Sedangkan di masa Pendudukan Jepang menjadi Basis Militer. Pasukan Jepang menduduki Sabang mulai tahun 1942.
Selain itu pulau Weh menjadi pertahanan Perang. Jepang mengubah Sabang menjadi pelabuhan militer dan garis pertahanan udara terdepan untuk menghadapi Sekutu. Hingga kini, sisa peninggalan perang seperti goa, benteng dan bunker pengintaian Jepang masih bisa ditemukan di sekitar pantai dan perbukitan Pulau Weh.(*)
Karenanya, jauh sebelum Temasek (Singapura) dan Batam berkembang seperti saat ini, Sabang menjadi pelabuhan utama dalam peta perdagangan internasional. Sejak masa Hindia Belanda, Sabang pun ditetapkan sebagai pelabuhan bebas bagi perdagangan internasional.
Mengenal Pulau Weh
Pulau Weh di Sabang, Aceh, terbentuk dari letusan gunung berapi purba pada zaman Pleistosen yang membuatnya terpisah dari daratan utama Pulau Sumatra.
"Weh" berasal dari bahasa Aceh yang berarti pindah, lepas atau terpisah. Sedangkan terkait cerita lokal mengisahkan bahwa Pulau Weh dahulu menyatu dengan daratan Banda Aceh (kawasan Ulee Lheue). Akibat gempa bumi dan letusan gunung berapi purba, daratan tersebut terlepas dan membentuk pulau-pulau kecil, termasuk Pulau Weh.
Pada masa Sultan Aceh pernah menggunakan pulau terpencil ini sebagai tempat pengasingan bagi orang buangan. Perlu diketahui, sebelum Perang Dunia II, Sabang dan Pulau Weh menjadi pelabuhan dagang yang sangat penting di Selat Malaka. Setelah Terusan Suez dibuka pada tahun 1869, jalur pelayaran dunia melewati Selat Malaka. Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Sabang sebagai dermaga dan pelabuhan bebas karena perairannya yang dalam serta terlindung secara alami.
Sabang bahkan sempat jauh lebih ramai dan penting dibandingkan Singapura pada masa itu. Sedangkan di masa Pendudukan Jepang menjadi Basis Militer. Pasukan Jepang menduduki Sabang mulai tahun 1942.
Selain itu pulau Weh menjadi pertahanan Perang. Jepang mengubah Sabang menjadi pelabuhan militer dan garis pertahanan udara terdepan untuk menghadapi Sekutu. Hingga kini, sisa peninggalan perang seperti goa, benteng dan bunker pengintaian Jepang masih bisa ditemukan di sekitar pantai dan perbukitan Pulau Weh.(*)
Quotes Populer
1. "Keadilan harus ditegakkan sebagai dasar dari sistem hukum, jika tidak, hukum hanya akan menjadi sarana penindasan."
2. Mimbar dari Cahaya: "Nabi SAW bersabda bahwa orang yang adil berada di sisi kanan Allah di atas mimbar dari cahaya". - (HR. Muslim).
3. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing: Cerminan keadilan sosial dalam hal berbagi beban hidup bersama.
4. "Tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa." - Reinhold Niebuhr
5. "Keadilan adalah kapasitas untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang lebih buruk atau lebih baik." [*]
FOTO BERITA











Tidak ada komentar:
Posting Komentar