Pangsa Pasar Mobil Listrik Cenderung Meningkat
Dalam lima tahun terakhir, terdapat pergeseran minat konsumen terhadap mobil listrik. Berdasarkan catatan Gaikindo, selama tahun 2021-2025, penjualan mobil berfluktuasi dari 887.202 unit pada tahun 2021 menjadi 803.683 unit pada tahun 2025. Selama kurun waktu itu, penjualan masih didominasi mobil tenaga penggerak Internal Combustion Engine (ICE) dengan bahan bakar minyak (BBM). Namun pangsa pasar nya cenderung menurun.
Sebagai gambaran, pada tahun 2021, pangsa pasar mobil ICE mencapai 99,6% dari total penjualan sebesar 887.202 unit, sedangkan pada tahun 2025 menurun menjadi 78,3% dari total penjualan yang sebesar 803.683 unit.
Sebaliknya penjualan mobil listrik yang terdiri dari tiga jenis yaitu Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Battery Electric Vehicle (BEV) cenderung meningkat. Dari ketiga jenis mobil listrik itu, pangsa pasar BEV yang terbesar dengan penjualan mencapai 103,931 unit pada tahun 2025 atau pangsa pasarnya sebesar 12,93%, diikuti HEV (8,13%) dan PHEV (0,65%). Sehingga total pangsa pasar mobil listrik mencapai 21,7% dengan penjualan sebanyak 174.489 unit pada tahun 2025.
Tabel – 1Perkembangan penjualan mobil menurut tenaga penggerak, 2021-2025
Penjualan sepuluh merek mobil listrik dan jenis baterai
Memasuki tahun 2026, selama Januari-Juni 2026, ditengah persaingan yang ketat, pasar mobil listrik di Indonesia tetap tumbuh agresif, dengan penjualan sebanyak 117.108 unit atau pangsa pasarnya mencapai 26,8% dari total penjualan yang mencapai 436.564 unit. Pangsa pasar penjualan mobil listrik selama Januari-Juni 2026 telah melebihi pangsa pasar mobil listrik selama tahun 2025.
Kecenderungan meningkatnya pangsa pasar mobil listrik ini antara lain karena banyaknya pilihan varian/model baru dan harga yang lebih kompetitif dan semakin mendekati selisih harga antara harga EV dengan harga mobil bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE).
Selama periode itu, terdapat sepuluh merek mobil listrik dengan penjualan tergolong besar. Toyota yang merupakan prinsipal otomotif asal Jepang dengan penjualan sebanyak 27.575 unit. Model/varian BEV yang dipasarkan adalah sedan bz4X dan hybrid seperti Kijang Innova Zenix, Yaris Cross dan Veloz. Sedangkan jenis baterai yang digunakan adalah Lithium-ion dan Nickel-Metal Hydride (NiMH).
Dua prinsipal otomotif asal Jepang lainnya yaitu Suzuki dan Honda, masing-masing dengan penjualan 6.985 unit dan 3.164 unit.
Sementara itu, selebihnya tujuh merek merupakan mobil listrik dari prinsipal China dengan BYD menjadi yang terbesar dengan penjualan sebanyak 23.257 unit, diikuti Jaecoo, Geely, Wuling, Chery, Aion dan Denza. Ketujuh merek mobil listrik ini menggunakan jenis baterai Lithium Iron Phosphate (LFP).
Seperti diketahui, Lithium Iron Phosphate (LFP) adalah jenis baterai lithium-ion yang menggunakan besi fosfat (iron phosphate) sebagai katoda. Sedangkan Nickel Manganese Cobalt (NMC) adalah jenis baterai lithium-ion dengan kepadatan energi tinggi yang mendukung jarak tempuh lebih jauh. Dengan kata lain, terdapat perbedaan pada penggunaan katodanya, Sementara untuk bahan anoda digunakan grafit. Baik lithium maupun grafit masih tergantung pada impor.
Tabel – 2Penjualan 10 merek mobil listrik dan jenis baterai,Januari-Juni 2026
Perkembangan impor mobil listrik
Kebijakan impor mobil listrik tahun 2025 menetapkan insentif bea masuk 0% dan PPnBM untuk Completely Built-Up (CBU) yang berakhir pada 31 Desember 2025, sementara skema Completely Knocked-Down (CKD) dan Semi Konock Down (SKD) diarahkan untuk mendukung kewajiban produksi lokal dan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40% mulai tahun 2026.
Seperti diketahui, insentif impor mobil listrik CBU mulai berlaku sejak Februari 2024. Melalui skema ini, produsen dapat memasukkan unit tanpa bea masuk dan PPnBM, dengan syarat memberikan jaminan bank garansi. Namun mulai 1 Januari 2026, perusahaan peserta diwajibkan memproduksi mobil listrik di dalam negeri dengan jumlah setara total unit yang diimpor.
Periode produksi tersebut berlangsung hingga akhir 2027, sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selanjutnya pada 2028, pemerintah akan melakukan audit. Jika jumlah produksi tidak sesuai dengan kuota impor, maka bank garansi dapat dicairkan untuk menutup kewajiban produsen.
Terdapat sembilan prinsipal yang masuk dalam program ini antara lain BYD Auto Indonesia, Vinfast Automobile Indonesia, Geely Motor Indonesia, Era Industri Otomotif (Xpeng), National Assemblers (Aion, Citroen, Maxus, VW) dan Inchape Indomobil Energi Baru (GWM).
Pada tahun 2025, menurut catatan Gaikindo, volume impor mobil listrik utuh (CBU) ke Indonesia didominasi oleh merek asal Tiongkok, dengan BYD sebagai pemimpin pasar. Seperti terlihat dari tabel perkembangan penjualan mobil menurut tenaga penggerak, total penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia mencapai 103.931 unit pada 2025, dengan sekitar 75% atau 77.948 unit dari total penjualan merupakan mobil listrik impor utuh (completely built up/CBU).
Sementara itu, berdasarkan data BPS, selama 2021-2025, impor mobil listrik melonjak dari hanya 1.391 ton senilai US$ 28,03 juta pada tahun 2021 menjadi 378.411 ton dengan nilai US$ 2,56 miliar pada tahun 2025. Sedangkan selama Januari-Juni 2026, meski tidak berlaku insentif bea masuk 0%, namun impor telah mencapai 60.853 ton senilai US$ 601,8 juta.
Terdapat dua jenis mobil listrik yang diimpor yaitu CBU dan CKD. Dari kedua jenis itu, impor didominasi mobil listrik utuh (CBU). Sebagai gambaran, pada 2025, dari total impor yang sebesar 378.411 ton dengan nilai US$ 2,56 miliar, impor mobil listrik CBU mencapai 334.658 ton atau 88,4% dari total impor dalam volume dan US$ 2,12 miliar atau 82,8% dari total impor dalam nilai.Tabel – 3Perkembangan impor mobil listrik,2021-2026*)
•bsr - mediadata
Sebaliknya penjualan mobil listrik yang terdiri dari tiga jenis yaitu Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dan Battery Electric Vehicle (BEV) cenderung meningkat. Dari ketiga jenis mobil listrik itu, pangsa pasar BEV yang terbesar dengan penjualan mencapai 103,931 unit pada tahun 2025 atau pangsa pasarnya sebesar 12,93%, diikuti HEV (8,13%) dan PHEV (0,65%). Sehingga total pangsa pasar mobil listrik mencapai 21,7% dengan penjualan sebanyak 174.489 unit pada tahun 2025.
Tabel – 1
Perkembangan penjualan mobil menurut tenaga penggerak, 2021-2025
Penjualan sepuluh merek mobil listrik dan jenis baterai
Memasuki tahun 2026, selama Januari-Juni 2026, ditengah persaingan yang ketat, pasar mobil listrik di Indonesia tetap tumbuh agresif, dengan penjualan sebanyak 117.108 unit atau pangsa pasarnya mencapai 26,8% dari total penjualan yang mencapai 436.564 unit. Pangsa pasar penjualan mobil listrik selama Januari-Juni 2026 telah melebihi pangsa pasar mobil listrik selama tahun 2025.
Kecenderungan meningkatnya pangsa pasar mobil listrik ini antara lain karena banyaknya pilihan varian/model baru dan harga yang lebih kompetitif dan semakin mendekati selisih harga antara harga EV dengan harga mobil bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE).
Selama periode itu, terdapat sepuluh merek mobil listrik dengan penjualan tergolong besar. Toyota yang merupakan prinsipal otomotif asal Jepang dengan penjualan sebanyak 27.575 unit. Model/varian BEV yang dipasarkan adalah sedan bz4X dan hybrid seperti Kijang Innova Zenix, Yaris Cross dan Veloz. Sedangkan jenis baterai yang digunakan adalah Lithium-ion dan Nickel-Metal Hydride (NiMH).
Dua prinsipal otomotif asal Jepang lainnya yaitu Suzuki dan Honda, masing-masing dengan penjualan 6.985 unit dan 3.164 unit.
Sementara itu, selebihnya tujuh merek merupakan mobil listrik dari prinsipal China dengan BYD menjadi yang terbesar dengan penjualan sebanyak 23.257 unit, diikuti Jaecoo, Geely, Wuling, Chery, Aion dan Denza. Ketujuh merek mobil listrik ini menggunakan jenis baterai Lithium Iron Phosphate (LFP).
Seperti diketahui, Lithium Iron Phosphate (LFP) adalah jenis baterai lithium-ion yang menggunakan besi fosfat (iron phosphate) sebagai katoda. Sedangkan Nickel Manganese Cobalt (NMC) adalah jenis baterai lithium-ion dengan kepadatan energi tinggi yang mendukung jarak tempuh lebih jauh. Dengan kata lain, terdapat perbedaan pada penggunaan katodanya, Sementara untuk bahan anoda digunakan grafit. Baik lithium maupun grafit masih tergantung pada impor.
Tabel – 2
Penjualan 10 merek mobil listrik dan jenis baterai,
Januari-Juni 2026
Perkembangan impor mobil listrik
Kebijakan impor mobil listrik tahun 2025 menetapkan insentif bea masuk 0% dan PPnBM untuk Completely Built-Up (CBU) yang berakhir pada 31 Desember 2025, sementara skema Completely Knocked-Down (CKD) dan Semi Konock Down (SKD) diarahkan untuk mendukung kewajiban produksi lokal dan target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40% mulai tahun 2026.
Seperti diketahui, insentif impor mobil listrik CBU mulai berlaku sejak Februari 2024. Melalui skema ini, produsen dapat memasukkan unit tanpa bea masuk dan PPnBM, dengan syarat memberikan jaminan bank garansi. Namun mulai 1 Januari 2026, perusahaan peserta diwajibkan memproduksi mobil listrik di dalam negeri dengan jumlah setara total unit yang diimpor.
Periode produksi tersebut berlangsung hingga akhir 2027, sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selanjutnya pada 2028, pemerintah akan melakukan audit. Jika jumlah produksi tidak sesuai dengan kuota impor, maka bank garansi dapat dicairkan untuk menutup kewajiban produsen.
Terdapat sembilan prinsipal yang masuk dalam program ini antara lain BYD Auto Indonesia, Vinfast Automobile Indonesia, Geely Motor Indonesia, Era Industri Otomotif (Xpeng), National Assemblers (Aion, Citroen, Maxus, VW) dan Inchape Indomobil Energi Baru (GWM).
Pada tahun 2025, menurut catatan Gaikindo, volume impor mobil listrik utuh (CBU) ke Indonesia didominasi oleh merek asal Tiongkok, dengan BYD sebagai pemimpin pasar. Seperti terlihat dari tabel perkembangan penjualan mobil menurut tenaga penggerak, total penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia mencapai 103.931 unit pada 2025, dengan sekitar 75% atau 77.948 unit dari total penjualan merupakan mobil listrik impor utuh (completely built up/CBU).
Sementara itu, berdasarkan data BPS, selama 2021-2025, impor mobil listrik melonjak dari hanya 1.391 ton senilai US$ 28,03 juta pada tahun 2021 menjadi 378.411 ton dengan nilai US$ 2,56 miliar pada tahun 2025. Sedangkan selama Januari-Juni 2026, meski tidak berlaku insentif bea masuk 0%, namun impor telah mencapai 60.853 ton senilai US$ 601,8 juta.
Terdapat dua jenis mobil listrik yang diimpor yaitu CBU dan CKD. Dari kedua jenis itu, impor didominasi mobil listrik utuh (CBU). Sebagai gambaran, pada 2025, dari total impor yang sebesar 378.411 ton dengan nilai US$ 2,56 miliar, impor mobil listrik CBU mencapai 334.658 ton atau 88,4% dari total impor dalam volume dan US$ 2,12 miliar atau 82,8% dari total impor dalam nilai.
Tabel – 3
Perkembangan impor mobil listrik,
2021-2026*)
Quotes Populer
1. "Keadilan harus ditegakkan sebagai dasar dari sistem hukum, jika tidak, hukum hanya akan menjadi sarana penindasan."
2. Mimbar dari Cahaya: "Nabi SAW bersabda bahwa orang yang adil berada di sisi kanan Allah di atas mimbar dari cahaya". - (HR. Muslim).
3. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing: Cerminan keadilan sosial dalam hal berbagi beban hidup bersama.
4. "Tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa." - Reinhold Niebuhr
5. "Keadilan adalah kapasitas untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang lebih buruk atau lebih baik." [*]

Sumber : Gaikindo
Sumber : Gaikindo/Mediadata
*) Januari-Juni - Sumber : BPS/Mediadata










Tidak ada komentar:
Posting Komentar