Demo Perempuan
Pagi pagi usai rapat budgeting pemberitaan, Redpel Edi Sucipto mengumpulkan kami para wartawan dan ditawarkan untuk meliput kemungkinan demo buruh di satu pabrik di daerah Gandus seberang Sungai Musi.
Karena daerah itu masih terkenal angker sebagai tempat pembuangan mayat saat jaman Petrus dulu, tidak ada berani yang meliput aksi demo ke tempat itu. Padahal demo itu sangan penting untuk diliput, karena dari nara sumbernya kalau tidak ada peliputan dari media, efeknya akan berbalik hingga banyak buruh yang akan kena sangsi pemecatan nantinya.
Karena naluri jurnalistik dan tantangan pengabdian profesiku di tanah Sumsel. Akumemberanikan diri menerima penugasan itu, tetapi bos Herman Darmo saat itu mewanti-wanti harus ada temannya, tidak boleh meliput sendirian. Bersyukur sohibku, Tarech Rasyid bersedia menemani dengan pertimbangan lebih mengenal medan dan kultur setempat.
Benar saja setelah menyusup dan seharian mengintip aktifitas pabrik itu di kantinnya, sore harinya ribuan buruh mayoritas kaum perempuan berdemo untuk menuntut hak hak mendasarnya, seperti kenaikan upah buruh, cuti hamil dan lain-lain. Segera kami beraksi ketengah-tengah aksi mereka, terutama mengambil foto dari berbagai sudut pandang.
Tak pelak aku dan Tarech diamankan petugas ke dalam kantornya, karena dianggap memprovokasi. Bahkan salah seorang pimpinannya yang kemungkinan masih perwira aktif, sempat mengacungkan pistol FN, "Saya sudah terbiasa menangani demo ribuan buruh di Jawa", teriaknya.
"Bapak kalau malam ini masih menahan kami, pimpinan kami akan melaporke berbagai pihak terkait", desak kami.
Akhirnya malam itu kami dan Tarech bisa pulang dengan selamat, meski di perjalanan cukup sengsara mencari perahu ketek dan berjalan di kegelapan rimbunan belukar saat itu.
Biro BaturajaSebagai Kepala Biro Baturaja, kami sukses melakukan seminar nasional tentangpemberdayaan ekonomi daerah di aula pabrik PT Semen Baturaja, diikuti oleh ratusan peserta mayoritas PNS yang membutuhkan sertifikat sebagai penunjang akreditasinya.
Banyak cerita berita di OKU, di antaranya investigasi aneka permainan judi yang beromset cukup fantatis untuk ukuran Baturaja sebagai kota kecil saat itu. Judi rolet dan berbagai jenis judi lainnya itu, berhasil diungkap oleh Wiedarto yang menyamar sebagai penjudi dan berhasildisusupkan ke kasino lewat mantan penjaga keamanannya.
Tak luput, saya sempat diundang dirapat kerja Pemda OKU yang ternyata pada kesempatan itu hanya menjadi pelampiasan kemarahan bupati. Dimana sebelumnya, kami telah memuat berita panjangnya meja perijinan dan pencairan yang harus dilalui kontraktor.
Cerita lainnya, usai liputan dari Danau Ranau saya dan Wiedarto pulang pakai motor malam hari dalam keadaan hujan-hujanan, padahal uji wong hutan yang kami lewati itu tempat lintasan harimau.
Puncaknya, saya sempat mengalami penganiayaan oleh Dandim OKU Kol. Sianipar di Puslatpur Martapura, saat saya berhasil menemui Pangdam Sriwijaya untuk keperluan konfirmasi berita dan wawancara. Namun rupanya terobosan saya ke komplek latihan tempur itu dianggap menyalahi prosedur.
"Kami mewakili Pangdam meminta maaf atas kejadian ini", ungkap Kasdam Brigjen Theo Syafei saat itu, ketika pihak Sripo melakukan pengaduan dan berakhir damai dengan pihak Kodam Sriwijaya.
Di tengah keterbatasan finansial dan gaji wartawan yang jauh dari cukup saat itu, kami juga diharamkan untuk menerima amplop termasuk fasilitas dan berbagai hadiah lainnya. Hanya saja karena militansi wartawan dan semangat pengabdian terus menggelora (besi jugo ditumburnyo uji kito), maka kontrol sosial dari Sripo terus berlangsung konsisten hingga hasilnya Sripo sempat leading sebagai media cetak terbesar di Sumbagsel.
Bagi saya, berita-berita dan berbagai tulisan pemikiran saya, hingga keberhasilan menyunting gadis Palembang. Semua ini, semoga menjadi episode pengabdian yang tulus, yang Allah jualah mencatatnya.(*)Tamat. ▶️ KEMBALI
Karena daerah itu masih terkenal angker sebagai tempat pembuangan mayat saat jaman Petrus dulu, tidak ada berani yang meliput aksi demo ke tempat itu. Padahal demo itu sangan penting untuk diliput, karena dari nara sumbernya kalau tidak ada peliputan dari media, efeknya akan berbalik hingga banyak buruh yang akan kena sangsi pemecatan nantinya.
Karena naluri jurnalistik dan tantangan pengabdian profesiku di tanah Sumsel. Aku
memberanikan diri menerima penugasan itu, tetapi bos Herman Darmo saat itu mewanti-wanti harus ada temannya, tidak boleh meliput sendirian. Bersyukur sohibku, Tarech Rasyid bersedia menemani dengan pertimbangan lebih mengenal medan dan kultur setempat.
Benar saja setelah menyusup dan seharian mengintip aktifitas pabrik itu di kantinnya, sore harinya ribuan buruh mayoritas kaum perempuan berdemo untuk menuntut hak hak mendasarnya, seperti kenaikan upah buruh, cuti hamil dan lain-lain. Segera kami beraksi ketengah-tengah aksi mereka, terutama mengambil foto dari berbagai sudut pandang.
Tak pelak aku dan Tarech diamankan petugas ke dalam kantornya, karena dianggap memprovokasi. Bahkan salah seorang pimpinannya yang kemungkinan masih perwira aktif, sempat mengacungkan pistol FN, "Saya sudah terbiasa menangani demo ribuan buruh di Jawa", teriaknya.
"Bapak kalau malam ini masih menahan kami, pimpinan kami akan melapor
ke berbagai pihak terkait", desak kami.
Akhirnya malam itu kami dan Tarech bisa pulang dengan selamat, meski di perjalanan cukup sengsara mencari perahu ketek dan berjalan di kegelapan rimbunan belukar saat itu.
Biro Baturaja
Sebagai Kepala Biro Baturaja, kami sukses melakukan seminar nasional tentang
pemberdayaan ekonomi daerah di aula pabrik PT Semen Baturaja, diikuti oleh ratusan peserta mayoritas PNS yang membutuhkan sertifikat sebagai penunjang akreditasinya.
Banyak cerita berita di OKU, di antaranya investigasi aneka permainan judi yang beromset cukup fantatis untuk ukuran Baturaja sebagai kota kecil saat itu. Judi rolet dan berbagai jenis judi lainnya itu, berhasil diungkap oleh Wiedarto yang menyamar sebagai penjudi dan berhasil
disusupkan ke kasino lewat mantan penjaga keamanannya.
Tak luput, saya sempat diundang dirapat kerja Pemda OKU yang ternyata pada kesempatan itu hanya menjadi pelampiasan kemarahan bupati. Dimana sebelumnya, kami telah memuat berita panjangnya meja perijinan dan pencairan yang harus dilalui kontraktor.
Cerita lainnya, usai liputan dari Danau Ranau saya dan Wiedarto pulang pakai motor malam hari dalam keadaan hujan-hujanan, padahal uji wong hutan yang kami lewati itu tempat lintasan harimau.
Puncaknya, saya sempat mengalami penganiayaan oleh Dandim OKU Kol. Sianipar di Puslatpur Martapura, saat saya berhasil menemui Pangdam Sriwijaya untuk keperluan konfirmasi berita dan wawancara. Namun rupanya terobosan saya ke komplek latihan tempur itu dianggap menyalahi prosedur.
"Kami mewakili Pangdam meminta maaf atas kejadian ini", ungkap Kasdam Brigjen Theo Syafei saat itu, ketika pihak Sripo melakukan pengaduan dan berakhir damai dengan pihak Kodam Sriwijaya.
Di tengah keterbatasan finansial dan gaji wartawan yang jauh dari cukup saat itu, kami juga diharamkan untuk menerima amplop termasuk fasilitas dan berbagai hadiah lainnya. Hanya saja karena militansi wartawan dan semangat pengabdian terus menggelora (besi jugo ditumburnyo uji kito), maka kontrol sosial dari Sripo terus berlangsung konsisten hingga hasilnya Sripo sempat leading sebagai media cetak terbesar di Sumbagsel.
Bagi saya, berita-berita dan berbagai tulisan pemikiran saya, hingga keberhasilan menyunting gadis Palembang. Semua ini, semoga menjadi episode pengabdian yang tulus, yang Allah jualah mencatatnya.(*)
Tamat. ▶️ KEMBALI
QUOTES POPULER
1. Mimbar dari Cahaya: "Nabi SAW bersabda bahwa orang yang adil berada di sisi kanan Allah di atas mimbar dari cahaya". - (HR. Muslim).
2. “Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan terjadi pada kita. Jadi jika kita ingin mengubah hidup, kita perlu sedikit mengubah pikiran kita.” - Wayne
3. "Tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa." - Reinhold Niebuhr.
4. "Keadilan adalah kapasitas untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang lebih buruk atau lebih baik."
5. "Keadilan harus ditegakkan sebagai dasar dari sistem hukum, jika tidak, hukum hanya akan menjadi sarana penindasan."












Tidak ada komentar:
Posting Komentar