DICARI WARTAWAN PLUS
Sebuah iklan di pojok halaman advetorial Harian Umum Kompas, tak terlalu besar, tapi sangat jelas dan menantang dengan caption "Dicari Wartawan Plus", tahun 1987. Buahnya, konon dari sekian banyak pelamar tinggal seratusan anak muda yang dipanggil ikut test di Gedung Palmerah, Jakarta.
Dari seleksi bertahap berhari-hari, hanya menyisakan lima orang, empat anak muda dan satu orang bisa terbilang tak muda lagi.
Keempat anak muda itu, termasuk wartawan lepas Du Kusdian atau Edu, anak Bandung alumnus Fikom UNPAD -- wartawan lepas yang juga sempat menjadi stringer Majalah Berita Editor sempalan Majalah Tempo saat itu. Dan karir terakhirnya menjadi direksi dan owner PT Media Data Riset di Jakarta.
Orang kedua, Wenny Ramdiastuti gadis Jakarta yang memang jebolan sekolah jurnalistik nian. Tah heran karirnya di Mabes Rivai 88 sampai ke puncak profesinya. Orang ketiga putera asli Plaju, Tarech Rasyid alumnus Filsafat UGM -- jurnalis, aktifis dan akademis yang memperoleh gelar magister dan doktornya justeru di UNPAD.
Keempat, Budi Winarno alumnus Undip yang di puncak karir jurnalistiknya sempatmengomandani Koran Jurnal di Jakarta. Terakhir yang saat itu terbilang tak muda lagi, adalah Harry mantan wartawan Harian Merdeka dan kami kehilangan jejaknya hingga kini.
Kawasan Merah Baru saja sore hari menjejakan kaki di Mabes Sripo Rivai 88, malamnya seorang rekan berperawakan kurus berambut sebahu memperkenalkan diri, "Ajong", sapanya (semoga almarhum senantiasa dalam ridho Allah SWT).
Usai kerja, masih dalam waktu dini hari saya diajak berjalan ke kawasan Pasar 16 Ilir, menyusuri kegelapan tepian Sungai Musi yang masih sangat mencekam saat itu. Dari sosok peta hidup beliaulah, akhirnya saya mengenal berbagai kawasan merah di Kota Palembang yang saat itu orang- orangnya masih suka membawa senjata tajam di pinggangnya.
Paginya, komandan di Mabes Sripo langsung menugaskan saya untuk mewawancarai para "bunga pucuk" dan mucikarinya di Km. 8 karena ada wacana kawasan merah itu akandibebaskan oleh pemda. Usai wawancara, terdengar teriakan perempuan dari bilik kamar.
Rupanya perempuan muda itu tengah menyandera kacamata "BL" milik Andeska dan ngotot minta dibayar, dengan alasan telah memakai kamarnya meski hanya sekedar ngobrol.
Setelah mendapat kepastian dari Andeska, bahwa tidak melakukan kenakalan di luar prosedur-- tiba tiba saja insting penyelamatan bertindak (maklum pernah jadi anak menwa). "Cepat kamu serahkan kacamata itu, jangan sampai-kawan kawan saya satu truk datang ke sini", tegasku kebetulan masih bisa bergaya militer saat itu.
Meski kacamata BL selamat, tak urung kami cepat-cepat memacu motor ke luar kompleks, takut dikejar para centeng. Untung saat itu belum jamannya HP, jadi portal gerbang kompleks pucuk masih aman terbuka. (*)
Dari seleksi bertahap berhari-hari, hanya menyisakan lima orang, empat anak muda dan satu orang bisa terbilang tak muda lagi.
Keempat anak muda itu, termasuk wartawan lepas Du Kusdian atau Edu, anak Bandung alumnus Fikom UNPAD -- wartawan lepas yang juga sempat menjadi stringer Majalah Berita Editor sempalan Majalah Tempo saat itu. Dan karir terakhirnya menjadi direksi dan owner PT Media Data Riset di Jakarta.
Orang kedua, Wenny Ramdiastuti gadis Jakarta yang memang jebolan sekolah jurnalistik nian. Tah heran karirnya di Mabes Rivai 88 sampai ke puncak profesinya. Orang ketiga putera asli Plaju, Tarech Rasyid alumnus Filsafat UGM -- jurnalis, aktifis dan akademis yang memperoleh gelar magister dan doktornya justeru di UNPAD.
Keempat, Budi Winarno alumnus Undip yang di puncak karir jurnalistiknya sempat
mengomandani Koran Jurnal di Jakarta. Terakhir yang saat itu terbilang tak muda lagi, adalah Harry mantan wartawan Harian Merdeka dan kami kehilangan jejaknya hingga kini.
Kawasan Merah
Baru saja sore hari menjejakan kaki di Mabes Sripo Rivai 88, malamnya seorang rekan berperawakan kurus berambut sebahu memperkenalkan diri, "Ajong", sapanya (semoga almarhum senantiasa dalam ridho Allah SWT).
Usai kerja, masih dalam waktu dini hari saya diajak berjalan ke kawasan Pasar 16 Ilir, menyusuri kegelapan tepian Sungai Musi yang masih sangat mencekam saat itu. Dari sosok peta hidup beliaulah, akhirnya saya mengenal berbagai kawasan merah di Kota Palembang yang saat itu orang- orangnya masih suka membawa senjata tajam di pinggangnya.
Paginya, komandan di Mabes Sripo langsung menugaskan saya untuk mewawancarai para "bunga pucuk" dan mucikarinya di Km. 8 karena ada wacana kawasan merah itu akan
dibebaskan oleh pemda. Usai wawancara, terdengar teriakan perempuan dari bilik kamar.
Rupanya perempuan muda itu tengah menyandera kacamata "BL" milik Andeska dan ngotot minta dibayar, dengan alasan telah memakai kamarnya meski hanya sekedar ngobrol.
Setelah mendapat kepastian dari Andeska, bahwa tidak melakukan kenakalan di luar prosedur-- tiba tiba saja insting penyelamatan bertindak (maklum pernah jadi anak menwa). "Cepat kamu serahkan kacamata itu, jangan sampai-kawan kawan saya satu truk datang ke sini", tegasku kebetulan masih bisa bergaya militer saat itu.
Meski kacamata BL selamat, tak urung kami cepat-cepat memacu motor ke luar kompleks, takut dikejar para centeng. Untung saat itu belum jamannya HP, jadi portal gerbang kompleks pucuk masih aman terbuka. (*)
QUOTES POPULER
1. Mimbar dari Cahaya: "Nabi SAW bersabda bahwa orang yang adil berada di sisi kanan Allah di atas mimbar dari cahaya". - (HR. Muslim).
2. “Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan terjadi pada kita. Jadi jika kita ingin mengubah hidup, kita perlu sedikit mengubah pikiran kita.” - Wayne
3. "Tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa." - Reinhold Niebuhr.
4. "Keadilan adalah kapasitas untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang lebih buruk atau lebih baik."
5. "Keadilan harus ditegakkan sebagai dasar dari sistem hukum, jika tidak, hukum hanya akan menjadi sarana penindasan."












Tidak ada komentar:
Posting Komentar