Porwil dan Pusri
Sebagai wartawan olahraga, saat ditugaskan menjadi peliput di tim atlit Porwil (Pekan Olahraga Wilayah Sumatera) di Pekanbaru bersama dengan almarhum Kurnati Abdullah. Tegas almarhum Valens Doys dan bos Herman Darmo memerintahkan untuk bisa tembus kekantor Astra Graphia di Pekanbaru.
"Kamu harus bisa kirim berita pakai fax dari kantor itu sore hari", titahnya.
"Gak bisa ngefax dari sana, percuma kamu dikirim ke Pekanbaru", tandasnya.
Pagi sebelum kantor Astra Graphia buka, saya sudah nongkrong di depan langsung lapor ke Satpamnya. Dari pagi hingga siang, dari staf hingga sekretaris kantor itu, tak juga ada yang menanggapi permohonnan kami untuk memanfaatkan mesin fax nya, meski harus berbayar sekalipun.
Akhirnya, menjelang tutup kantor saya dipanggil masuk menemui site managernya, "Sebetulnya sejak kemarin banyak wartawan datang, bahkan dari Jakarta minta sepertikeinginan kamu. Tak ada seorang pun saya ijinkan. Hanya kamu inilah satu satunya yang kita ijinkan, karena kamu ngotot sejak tadi pagi. Saya ijinkan kamu ngefax sore hari setelah bubaran kantor", ucapnya melegakan hati.
Esoknya dan hari hari berikutnya, usai berbagai kegiatan pertandingan olahraga di venue Pekanbaru maupun Dumai, siang harinya saya langsung tancap gas pakai Vespa sewaan ke hotel untung bikin berita hingga sore hari. Usai itu pukul 5 sore, bergegas ke kantor Astra Graphia untuk ngefax laporan beritanya ke Mabes.
Hasilnya, mungkin saya dan Kurnati lahyang membuka sejarah media cetak di Palembang, hingga memungkinkan pembaca di Sumbagsel bisa memperoleh informasi lengkap perkembangan tim atlit daerahnya setiap hari. Sedangkan untuk foto-foto kami harus pergi ke bandara, mengirimkan via paket penerbangan ke Palembang.
Juga sebagai wartawan olahraga, saat hendak wawancara dengan pelatih tinju Johni Riberu di Komplek Pusri, saya bersama dengan Ismetri dan Ajong (keduanya almarhum) di hadang di gerbang utama oleh petugas berbaju loreng lengkap dengan senjata M-16 yang disandangnya.
Kami diharuskan lewat jalan pinggir, tempat pejalan kaki. Entah karena kesal dengan kearoganannya, saya langsung berkata, "Kamu militer, saya sipil. Buka baju kamu, kita duel disini anggap saja latihan", hardik aku.
Tanpa ada reaksi, akhirnya kami terus melenggang masuk Kompleks Pusri dengan selamat. Hanya saja saat pulangnya, satu regu TNI-AD bersenjata lengkap menghadang kami dan dibawa masuk ke pos penjagaan, langsung dipertemukan dengan perwira komandannya yang menyambut dengan garang.
Dengan berbagai hardikan interogasi dari mereka, sudah tentu sangat mengiurkan kawan-kawan dan katanya ada yang terkencing di celana. Namun bersyukur, akhirnya kami bisa mulus keluar dengan selamat, tanpa ada bekas lecet sekalipun.(*)
"Kamu harus bisa kirim berita pakai fax dari kantor itu sore hari", titahnya.
"Gak bisa ngefax dari sana, percuma kamu dikirim ke Pekanbaru", tandasnya.
Pagi sebelum kantor Astra Graphia buka, saya sudah nongkrong di depan langsung lapor ke Satpamnya. Dari pagi hingga siang, dari staf hingga sekretaris kantor itu, tak juga ada yang menanggapi permohonnan kami untuk memanfaatkan mesin fax nya, meski harus berbayar sekalipun.
Akhirnya, menjelang tutup kantor saya dipanggil masuk menemui site managernya, "Sebetulnya sejak kemarin banyak wartawan datang, bahkan dari Jakarta minta seperti
keinginan kamu. Tak ada seorang pun saya ijinkan. Hanya kamu inilah satu satunya yang kita ijinkan, karena kamu ngotot sejak tadi pagi. Saya ijinkan kamu ngefax sore hari setelah bubaran kantor", ucapnya melegakan hati.
Esoknya dan hari hari berikutnya, usai berbagai kegiatan pertandingan olahraga di venue Pekanbaru maupun Dumai, siang harinya saya langsung tancap gas pakai Vespa sewaan ke hotel untung bikin berita hingga sore hari. Usai itu pukul 5 sore, bergegas ke kantor Astra Graphia untuk ngefax laporan beritanya ke Mabes.
Hasilnya, mungkin saya dan Kurnati lah
yang membuka sejarah media cetak di Palembang, hingga memungkinkan pembaca di Sumbagsel bisa memperoleh informasi lengkap perkembangan tim atlit daerahnya setiap hari. Sedangkan untuk foto-foto kami harus pergi ke bandara, mengirimkan via paket penerbangan ke Palembang.
Juga sebagai wartawan olahraga, saat hendak wawancara dengan pelatih tinju Johni Riberu di Komplek Pusri, saya bersama dengan Ismetri dan Ajong (keduanya almarhum) di hadang di gerbang utama oleh petugas berbaju loreng lengkap dengan senjata M-16 yang disandangnya.
Kami diharuskan lewat jalan pinggir, tempat pejalan kaki. Entah karena kesal dengan kearoganannya, saya langsung berkata, "Kamu militer, saya sipil. Buka baju kamu, kita duel disini anggap saja latihan", hardik aku.
Tanpa ada reaksi, akhirnya kami terus melenggang masuk Kompleks Pusri dengan selamat. Hanya saja saat pulangnya, satu regu TNI-AD bersenjata lengkap menghadang kami dan dibawa masuk ke pos penjagaan, langsung dipertemukan dengan perwira komandannya yang menyambut dengan garang.
Dengan berbagai hardikan interogasi dari mereka, sudah tentu sangat mengiurkan kawan-kawan dan katanya ada yang terkencing di celana. Namun bersyukur, akhirnya kami bisa mulus keluar dengan selamat, tanpa ada bekas lecet sekalipun.(*)
QUOTES POPULER
1. Mimbar dari Cahaya: "Nabi SAW bersabda bahwa orang yang adil berada di sisi kanan Allah di atas mimbar dari cahaya". - (HR. Muslim).
2. “Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan terjadi pada kita. Jadi jika kita ingin mengubah hidup, kita perlu sedikit mengubah pikiran kita.” - Wayne
3. "Tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa." - Reinhold Niebuhr.
4. "Keadilan adalah kapasitas untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang lebih buruk atau lebih baik."
5. "Keadilan harus ditegakkan sebagai dasar dari sistem hukum, jika tidak, hukum hanya akan menjadi sarana penindasan."












Tidak ada komentar:
Posting Komentar