Hari Solidaritas 

Internasional Bagi Rakyat Palestina

Bumi Seperti Debunya Debu


Apakah alam semesta ini ada ujungnya atau tepinya?

Sampai saat ini sains belum bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada keterbatasan yang membuat kita tidak bisa mengetahui dengan pasti ukuran alam semesta.
Sejauh ini, apakah alam semesta bertepi atau tidak bertepi, kita belum bisa menjawabnya.
Mengapa bisa demikian?
Secara umum, alam semesta adalah ruang dan waktu yang diisi oleh benda-benda yang kita kenal sebagai planet, planet katai, asteroid, komet, bintang, galaksi, semua yang ada di ruang antar bintang dan antar galaksi, juga seluruh materi dan energi.
Tapi, itu semua ada dalam batasan alam semesta yang sudah berhasil kita amati atau yang kita sebut sebagai alam semesta teramati. Batasnya adalah horison atau cakrawala alam semesta itu sendiri. Di luar itu, kita tidak punya informasi apapun.  Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah alam semesta teramati yang sudah kita ketahui dengan baik informasinya.
Informasi dari semua benda yang ada di alam semesta itu berasal dari cahaya yang datang dalam berbagai panjang gelombang. Cahaya menjadi sidik jari utama bagi para astronom untuk bisa mengidentifikasi benda-benda langit. Karena itulah kita bisa mengetahui bagaimana bintang dan sistem keplanetan terbentuk. Kita bisa mengetahui evolusi bintang. Kita juga bisa melakukan cacah bintang dan galaksi yang ada di alam semesta.
Modalnya cuma satu. Cahaya. Tapi, ada benda seperti lubang hitam yang tidak memancarkan cahaya sama sekali. Kita bisa tahu keberadaannya dari interaksinya dengan benda-benda yang ada di sekelilingnya. Bukan dari lubang hitam itu sendiri.
Seluruh informasi itu kita terima di Bumi setelah cahayanya kita terima. Dan cahaya itu butuh waktu untuk bisa sampai ke pengamat di Bumi. Cahaya bergerak dengan kecepatan 299,792,458 meter/detik dalam ruang hampa. Jadi dalam satu tahun, cahaya menempuh jarak 9.467.280.000.000 km.
Berdasarkan teori relativitas khusus yang dipublikasikan tahun 1905, kecepatan cahaya atau c merupakan kecepatan maksimum bagi energi, materi dan informasi untuk bergerak di alam semesta.
Semakin jauh suatu benda, maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan cahaya untuk bisa diterima pengamat. Karena itu, ketika cahaya tiba dan diterima pengamat di Bumi, informasi yang kita miliki itu bisa berasal dari masa lalu.
Contohnya, Matahari. Jarak Bumi dan Matahari 150 juta km. Jauh bagi kita yang ada di Bumi. Tapi bagi para astronom, jarak ini cukup dekat. Cahaya yang kita terima dari Matahari itu menempuh perjalanan selama 8 menit untuk bisa tiba di Bumi. Atau dengan kata lain, jarak Bumi – Matahari itu 8 menit cahaya.
Sedikit lebih jauh, jarak Matahari ke bintang terdekat yakni Proxima Centauri 4,24 tahun cahaya. Artinya, bintang Proxima Centauri yang kita amati saat ini berasal dari cahaya yang datang ke pengamat 4,24 tahun yang lalu.
Dalam konteks yang lebih besar, Matahari bersama milyaran bintang lainnya, merupakan penghuni galaksi Bima Sakti. Galaksi yang jadi rumah bagi kita semua ini memiliki ukuran 100.000 tahun cahaya. Dengan kata lain, cahaya butuh waktu 100.000 tahun untuk bergerak dari sisi Bima Sakti yang satu ke sisi lainnya. 
(Sumber:darilangitselatan) ©vid:anaknyaManusia