Belajar dari KDM :
Memimpin itu Butuh Spiritual Leadership
Oleh : Uus Sumirat
Mengapa Masih ada Orang benci kepada KDM ?
Meski memiliki banyak pendukung, tidak semua orang memandang Kang Dedi Mulyadi dengan cara yang sama. Memang menarik disimak mengapa masih tersisa orang-orang yang memiliki rasa benci kepada KDM ? pertanyaan ini sangat menggelitik karena aneh dan lucu,
Ada beberapa alasan mengapa sebagian orang tetap menaruh rasa tidak suka atau kebencian kepada KDM. Beberapa alasan itu diantaranya :
1. Perbedaan Pandangan Politik
Sebagai tokoh publik dan politikus, KDM tentu tidak lepas dari perbedaan atau benturan kepentingan politik. Dalam dunia politik, dukungan dan penolakan adalah hal yang biasa. Sebagian orang mungkin memiliki pilihan politik yang berbeda sehingga memandang segala tindakan seorang tokoh dari sudut pandang yang berlawanan. Namun sayang hal yang biasa ini kemudian ditunjukan dengan sikap benci kepada KDM.
2. Gaya Kepemimpinan yang Kuat
Tokoh yang memiliki karakter kuat sering kali memunculkan dua respons sekaligus: dikagumi dan ditentang. Ada orang yang menyukai gaya tegas dan langsung, tetapi ada pula yang merasa tidak nyaman dengan pendekatan tersebut. Hal ini boleh jadi karena merasa dirinya tidak memiliki kemampuan kepemimpinan ala KDM.
3. Popularitas yang Tinggi
Semakin terkenal seseorang, semakin besar pula sorotan terhadap dirinya. Popularitas sering melahirkan ekspektasi tinggi akan tetapi sebaliknya melahirkan berbagai respon negatif. Ketika ada pembawaan, tindakan atau ucapan yang dinilai tidak sesuai dengan harapan sebagian orang, kritik bahkan kebencian dapat muncul, baik secara spontan ataupun memang ada tujuan tertentu. Hal ini ditunjukan oleh beberapa orang yang selama ini sebenarnya “beken” tetapi kemudian menunjukan rasa bencinya karena tersaingi atau kalah populer dari KDM lalu dia merasa ketakutan kebenarannya akan tersalip oleh KDM.
4. Pengaruh Media Sosial
Media sosial membuat opini berkembang sangat cepat. Pujian dan kritik bisa menyebar dalam hitungan detik. Kadang-kadang, penilaian terhadap seseorang tidak lagi berdasarkan fakta utuh, tetapi potongan video, narasi sepihak, atau emosi sesaat. Akibatnya, rasa suka maupun benci dapat terbentuk secara berlebihan. Persoalannya, rasa suka seringkali lahir karena melihat fakta nyata di lapangan, sebaliknya rasa benci dipengaruhi oleh pandangan atau penilai pribadi dari diri yang bertentangan.
JEJAK
Kapolri Terima Adhi Bhakti Senapati...
Penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya ...
Profil Prapto Pempek :
Dari Pinggir Sungai...
Kisah otobiografi Suprapto Suryani Pempek, alias Prapto Pempek atau PakDe...Profil Adam Malik Seorang Politikus yang Mantan...
Salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 6...
.jpg)

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar