Tahun Baru : Hidup Harus Lebih Baik
Baru saja kita meninggalkan tahun 2025 dan melangkah ke tahun 2026. Setiap pergantian tahun selalu datang membawa harapan baru. Oleh karena itu tahun baru sering dijadikan sebagai momentum untuk menata kembali harapan dan tujuan hidup.
@satgasnasNews™📎JAKARTA
Angka di kalender memang berubah, tetapi makna sesungguhnya dari tahun baru terletak pada kesempatan untuk memperbaiki diri. Tahun yang telah berlalu menjadi cermin : ada keberhasilan yang patut disyukuri, ada pula kesalahan yang perlu direnungkan. Dari sanalah kita belajar agar langkah ke depan menjadi lebih bijak, ikhtiar menjadi lebih sukses dan hidup menjadi lebih bermakna. Kesuksesan dalam Islam Dalam pandangan Islam, kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian materi, tetapi dari sejauh mana seorang hamba semakin dekat kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi sesama. Oleh karena itu, menyambut tahun baru seharusnya diiringi dengan niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sukses secara dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Seorang Muslim dianjurkan untuk meluruskan niat dalam setiap aktivitas, baik belajar, bekerja, maupun beribadah, agar semuanya bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa waktu adalah amanah yang sangat berharga. Setiap pergantian tahun menandakan bertambahnya usia dan berkurangnya kesempatan hidup. Seorang Muslim yang sukses adalah mereka yang mampu memanfaatkan waktu dengan amal saleh, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperbaiki akhlak. Kesuksesan sejati lahir dari keseimbangan antara usaha, doa, dan tawakal kepada Allah SWT. Lebih jauh, Islam mendorong umatnya untuk terus belajar dan berusaha. Kegagalan di masa lalu tidak dijadikan alasan untuk berputus asa, melainkan pelajaran untuk bangkit dan melangkah lebih baik. Dengan memperbanyak istigfar, bersyukur atas nikmat Allah, serta berkomitmen menjalani hidup sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, kesuksesan yang hakiki insyaallah dapat diraih. Dengan demikian, tahun baru menurut Islam bukan hanya tentang resolusi duniawi, tetapi tentang memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Jika keimanan meningkat, akhlak terjaga, dan amal saleh bertambah, maka itulah tanda bahwa tahun baru benar-benar membawa kesuksesan yang diridai Allah SWT. Kesuksesan Duniawi Ada epatah dalam Ajaran Islam : “Kejarlah duniamu seakan-akan kamu hidup seribu tahun lagi, dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.” Kalimat ini mengandung pesan yang sangat dalam tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dunia, tetapi juga tidak membiarkan manusia tenggelam di dalamnya. Mengejar dunia seakan hidup masih seribu tahun lagi berarti kita dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, bekerja, dan merencanakan masa depan. Seorang Muslim harus memiliki semangat, disiplin, dan tanggung jawab agar mampu hidup mandiri dan memberi manfaat bagi orang lain. Usaha yang dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang baik akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Namun, pada saat yang sama, Islam mengingatkan agar persiapan akhirat tidak diabaikan. Mengejar akhirat seakan mati besok mengajarkan kita untuk selalu menjaga sholat, memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, dan menjauhi perbuatan dosa. Kesadaran akan kematian membuat manusia lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak. Dengan demikian, Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dunia dijadikan sarana, bukan tujuan utama. Ketika usaha duniawi berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah, maka hidup akan lebih terarah, bermakna, dan penuh keberkahan. Perlunya Evaluasi Diri : Metode Stop, Start, Continue Dari sisi kesuksesan duniawi, untuk menapaki tahun-tahun ke depan dengan produktif memerlukan evaluasi diri. Di sinilah kita perlu melakukan pengakuan yang jujur kepada diri terhadap perjalanan hidup di masa lalu. Hal ini penting agar kita bisa introspeksi dan mengevaluasi diri sendiri. Caranya tidak terlalu rumit, bisa melakukan evaluasi melalui cara ata metode yang sederhana. Salah satu kerangka kerja paling sederhana namun kuat untuk melakukan evaluasi diri adalah apa yang dikenal sebagai metode Stop, Start, Continue. Adalah Peter Drucker yang dikenal sebagai bapak manajemen modern, menekankan pentingnya evaluasi diri secara berkala dan pertanyaan reflektif dalam meningkatkan kinerja. Konsep Stop, Start, Continue sejalan dengan gagasannya tentang : a. Apa yang harus dihentikan karena tidak efektif (Stop); b. Apa yang perlu mulai dilakukan (Start); c. Apa yang harus dipertahankan karena berhasil (Continue). Konsep atau metode ini membantu kita untuk menyaring tindakan mana yang memberi nilai tambah dan mana yang hanya membuang energi. Berikut kira-kira panduan yang bisa digunakan dalam menerapkan metode tersebut, khususnya di awal tahun baru, yaitu :
1. Stop (Hentikan) Bagian ini fokus pada identifikasi perilaku, kebiasaan, atau aktivitas yang tidak memberikan hasil positif atau justru menghambat kemajuan kita di tahun-tahun sebelumnya. Di sini kita dihadapkan kepada sebuah pertanyaan kunci: "Apa yang saya lakukan tahun lalu yang tidak membuahkan hasil atau justru menguras energi saya tanpa alasan?". Apabila kita mampu berkata jujur kepada diri kita, tentu pertanyaan ini sangat relevan karena pada kenyataannya kita sering tanpa sadar melakukan hal-hal yang tidak perlu, seperti larut dalam aplikais permainan tertentu di HP atau laptop, asik membuka media sosial tanpa tujuan di waktu kerja, menunda-nunda pekerjaan penting atau mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan zat tidak sehat. Semua itu harus dihentikan kalau kita mau sukses. 2. Start (Mulai) Pada tahap ini kita harus fokus pada inisiatif untuk mulai melakukan inovasi dan hal-hal baru yang kita yakini akan membawa dampak positif bagi tujuan kita di tahun 2026. Pertanyaan kuncinya antara lain : “Hal baru apa yang harus kita jalankan untuk mencapai target kita ke depan saya ?" Pertanyaaan ini akan membawa kita pada ide atau gagasan baru yang harus diterapkan untuk meraih kesuksesan. Misalnya, mulai mempelajari ilmu-ilmu digital seperti teknologi AI, kalau perlu mengambil kursus atau pelatihan untuk itu, menggunakan aplikasi pengelolaan keuangan atau mulai merekrut tenaga-tenaga profesional yang memiliki keahlian digital untuk menyederhanakan sistem kerja yang lebih efektif dan efisien. 3. Continue (Lanjutkan) Ini adalah bagian yang paling sering terlupakan. Banyak hal baik yang telah kita lakukan tapi luput dari perhatian oleh karena cara kerja terbaur dengan kebiasaan atau pengaruh-pengaruh luar yang menuntut perhatian atau penanganan pada hal tidak atau kurang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai. Evaluasi bukan hanya tentang perubahan, tapi juga tentang bagaimana memperkuat hal-hal yang sudah berjalan dengan baik. Bagian ini adalah respon positif yang harus dipelihara atas bagian keberhasilan yang telah kita capai.Pertanyaan kuncinya seperti : "Hal baik apa yang sudah kita lakukan dan harus terus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan ke depan ?"
Pertanyaan ini akan membawa kita kepada identifikasi atau pencatatan hal-hal yang selama ini telah dilakukan dan dirasakan memberikan manfaat atau solusi dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Misalnya, meneruskan kebiasaan berdoa sebelum bekerja, selalu memperhatikan kesiapan peralatan yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan atau kebiasaan berkomunikasi yang baik dengan pegawai sehingga mereka merasa diakui sebagai mitra kerja dalam mencapai tujuan bersama. Dapat disimpulkan bahwa metode Stop, Start, Continue adalah alat navigasi yang efektif untuk menapaki tahun 2026 dan tahun-tahun selanjutnya. Dengan mengeliminasi hambatan, mencoba peluang baru, dan konsisten pada hal-hal baik, Anda tidak hanya bermimpi tentang perubahan, tetapi sedang merancang jalan menuju keberhasilan tersebut. Penutup Hidup yang lebih baik tidak selalu berarti perubahan besar dan instan. Justru, perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberi dampak paling nyata. Setiap usaha, sekecil apa pun itu, adalah bentuk komitmen untuk berkembang, maju dan sukses. Tahun baru juga menjadi momen untuk menata kembali tujuan hidup. Bukan sekadar membuat resolusi, tetapi memahami alasan di baliknya. Ketika tujuan disertai niat yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh, kegagalan tidak lagi menjadi akhir, melainkan pelajaran berharga untuk bangkit kembali. Asalkan kita bisa menghentikan sifat dan atau kebiasaan buruk, memulai kebiasaan baru yang positif dan tetap konsisten melakukan hal-hal yang sudah baik. Akhirnya, pergantian tahun harus menjadi pengingat bahwa kita selalu ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Dengan sikap optimis, kerja keras, dan doa, hidup yang lebih baik bukan sekadar harapan, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan. Mari melangkah ke tahun yang baru dengan semangat baru dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Penulis ingin menutup tulisan ini dengan sebuah doa singkat : Allahumma waffiqna limaa tuhibbu wa tardhaa,waj‘al ‘aamana haadza ‘aaman najaah wa barakah. Ya Allah, berilah kami keberhasilan dalam hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai, dan jadikan tahun ini tahun penuh kesuksesan dan keberkahan. Aamiin ya Rabb...[]
🛡️Redaksi: Dosi Bre' 🌐Post Youtube
• ZOOM
Prapto Pempek :
Dari Pinggir Sungai...
Kisah otobiografi Suprapto Suryani Pempek, alias Prapto Pempek atau PakDe...Adam Malik Seorang Politikus yang Mantan...
Salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 6...VIDEO PILIHAN

















Tidak ada komentar:
Posting Komentar