Era Digital dan Tantangan Baru bagi Kesehatan Mata
Oleh: dr. Hasnania Rilanty Munaf, MGH, MHLM *)
Dalam beberapa tahun terakhir, kehidupan manusia semakin sulit dipisahkan dari layar digital. Aktivitas bekerja, belajar, berbelanja, hingga hiburan kini banyak dilakukan melalui ponsel, laptop, dan perangkat elektronik lainnya.
Tahun 2025 bahkan disebut sebagai era percepatan digital, ditandai dengan meningkatnya penggunaan media sosial, konten video singkat, serta pola kerja yang semakin bergantung pada teknologi. Memasuki 2026, tantangan kesehatan mata pun menjadi semakin kompleks, seiring meningkatnya durasi screen time akibat kebiasaan multitasking digital dan aktivitas berbasis layar yang kini mendominasi kehidupan sehari-hari.
Di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru bagi kesehatan mata. Penggunaan perangkat digital dalam waktu lama dapat menyebabkan (DES), yaitu kumpulan keluhan pada mata dan penglihatan akibat paparan layar berkepanjangan. Gejalanya meliputi mata lelah, kering, pegal, berair, penglihatan kabur, hingga sakit kepala. Saat menatap layar, frekuensi berkedip cenderung menurun sehingga permukaan mata menjadi lebih cepat kering, sementara mata juga dipaksa terus fokus pada jarak dekat dalam waktu lama.
Sebelum pandemi COVID-19, prevalensi DES dilaporkan berkisar antara 5–65 persen pada berbagai kelompok pengguna perangkat digital. Namun setelah pandemi, angka tersebut meningkat signifikan. Pembelajaran daring dan membuat screen time meningkat hampir di semua kelompok usia. Penelitian Abdulmannan tahun 2026 bahkan melaporkan prevalensi DES berkisar antara 12– 97 persen, dipengaruhi oleh faktor kategori populasi, wilayah, jenis kelamin, dan gaya hidup digital. Perempuan juga disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami DES dan gangguan permukaan mata dibandingkan laki-laki, yang diduga berkaitan dengan faktor hormonal.
Studi lain menunjukkan prevalensi DES pada anak dapat mencapai 50–60 persen pascapandemi. Fenomena ini menjadi perhatian global karena generasi muda saat ini berpotensi mengalami gangguan penglihatan lebih dini dibandingkan generasi sebelumnya.
Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan karena mata mereka masih berada dalam tahap perkembangan. Paparan layar sejak usia dini, kebiasaan melihat objek dekat terus-menerus, serta minimnya aktivitas luar ruangan diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus rabun jauh. Di sisi lain, penggunaan gadget pada anak kini semakin sulit dihindari karena telah menjadi bagian dari pendidikan dan kehidupan sosial sehari-hari.
Selain menimbulkan keluhan pada mata, paparan layar berlebihan juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Penggunaan gadget terutama pada malam hari diketahui dapat mengganggu produksi hormon melatonin akibat paparan cahaya dari layar digital. Kurang tidur kronis juga dapat memperburuk kondisi mata kering. Meski demikian, teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Menjaga kesehatan mata di era digital tidak selalu berarti menghindari teknologi, melainkan membangun kebiasaan visual yang lebih sehat.
American Academy of Ophthalmology (AAO) merekomendasikan beberapa langkah sederhana untuk membantu mengurangi DES. Posisi layar sebaiknya sedikit lebih rendah dari garis pandang mata untuk mengurangi ketegangan visual. Penggunaan tetes air mata buatan juga dapat membantu mengurangi keluhan mata kering, terutama pada ruangan ber-AC. Selain itu, kacamata khusus komputer dapat dipertimbangkan bagi pengguna dengan keluhan fokus visual saat bekerja di depan layar. Umumnya layar komputer berada pada jarak sekitar 20– 26 inci (sekitar 50–66 cm) dari wajah.
AAO juga merekomendasikan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Kebiasaan ini membantu merelaksasikan otot fokus mata dan mengurangi kelelahan visual akibat aktivitas jarak dekat yang berkepanjangan. Penggunaan gadget menjelang waktu tidur juga sebaiknya dibatasi untuk membantu menjaga kualitas tidur.
Penelitian Kido tahun 2024 juga menunjukkan bahwa aktivitas luar ruangan memiliki peran penting, terutama pada anak dan remaja. Paparan cahaya alami diketahui dapat membantu perkembangan mata yang lebih sehat dan berpotensi memperlambat progresivitas myopia.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, kesehatan mata menjadi pengingat bahwa tubuh manusia tetap memiliki batas biologis. Teknologi akan terus berkembang, tetapi mata manusia tetap memiliki batas biologis yang tidak berubah secepat dunia digital. Karena itu, keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas di luar ruangan menjadi semakin penting di era modern. Menjaga kesehatan mata bukan lagi sekadar kebiasaan tambahan, melainkan bagian penting dari menjaga kualitas hidup di era modern.
*) Penulis adalah dokter umum dengan latar belakang pendidikan magister kesehatan global dan manajemen layanan kesehatan di Australia, serta memiliki minat utama pada edukasi kesehatan mata dan kesehatan preventif.[]
• red
______________________________________________
JEJAK
Kapolri Terima Adhi Bhakti Senapati...
Penghargaan tersebut sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya ...
Profil Prapto Pempek :
Dari Pinggir Sungai...
Kisah otobiografi Suprapto Suryani Pempek, alias Prapto Pempek atau PakDe...Profil Adam Malik Seorang Politikus yang Mantan...
Salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 6...
.jpg)















