Brigjen Hengki Haryadi Jadi Kapolda Papua Barat Daya Gantikan Brigjen Audie Sonny
Upacara Serah Terima Jabatan Kapolda Papua Barat Daya di Ruang Rupatama Mabes Polri, Jakarta, yang dipimpin Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., sekitaran pukul 13.00 WIB, Rabu (2/9/2026).
Sertijab merupakan bagian dari rangkaian mutasi Pejabat Utama Mabes Polri dan para Kapolda yang dilakukan Kapolri sebagai bentuk penyegaran organisasi, pengembangan karier, serta upaya meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas kepolisian.
Secara resmi dalam prosesi tersebut, Brigjen Pol Audie Sonny Latuheru, S.I.K., M.Han., menyerahkan tongkat komando kepada penggantinya, Brigjen Pol Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H.
Dengan keahlian dan pengalamannya, Hengki diharapkan dapat menjalankan tugas barunya dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua Barat Daya.
•Rekan Jejak Profil Brigjen Pol Hengki Haryadi
Brigjen Pol. Hengki Haryadi resmi menjabat sebagai Kapolda Papua Barat Daya sejak 30 Agustus 2026.
Pria kelahiran 16 Oktober 1974 ini lulusan SMA Taruna Nusantara (1993) dan Akademi Kepolisian / Akpol 1996. Ia dikenal sebagai spesialisasi di bidang reserse dan dikenal memiliki rekam jejak kuat dalam pemberantasan premanisme serta penegakan hukum.
Dihimpun dari berbagaisumber, Hengki Haryadi memiliki riwayat jabatan strategis, seperti menjabat sebagai Wakapolda Riau, jabatan sebelum ditunjuk menjadi Kapolda Papua Barat Daya.
Ia juga pernah mengembangkan tugas sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya, yang memimpin berbagai pengungkapan kasus kriminal besar di ibu kota.
Dalam perjalanan kariernya Hengki Haryadi juga pernah menjadi Kapolres Metro Jakarta Pusat, dalam menjaga keamanan di pusat kota Jakarta. Kemudian sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, yang dikenal saat memimpin penangkapan terhadap kelompok preman pimpinan Hercules sebanyak dua kali.
Selain itu, ia juga pernah memengan posisiKapolres Pelabuhan Tanjung Priok, dengan prioritas memimpin pengamanan di kawasan pelabuhan penting.
Secara jejak, ia dikenal berkat ketegasannya dalam meringkus aksi premanisme kelas kakap di wilayah hukum Jakarta.(*)
Sertijab merupakan bagian dari rangkaian mutasi Pejabat Utama Mabes Polri dan para Kapolda yang dilakukan Kapolri sebagai bentuk penyegaran organisasi, pengembangan karier, serta upaya meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas kepolisian.
Secara resmi dalam prosesi tersebut, Brigjen Pol Audie Sonny Latuheru, S.I.K., M.Han., menyerahkan tongkat komando kepada penggantinya, Brigjen Pol Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H.
Dengan keahlian dan pengalamannya, Hengki diharapkan dapat menjalankan tugas barunya dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua Barat Daya.
•Rekan Jejak Profil Brigjen Pol Hengki Haryadi
Brigjen Pol. Hengki Haryadi resmi menjabat sebagai Kapolda Papua Barat Daya sejak 30 Agustus 2026.
Pria kelahiran 16 Oktober 1974 ini lulusan SMA Taruna Nusantara (1993) dan Akademi Kepolisian / Akpol 1996. Ia dikenal sebagai spesialisasi di bidang reserse dan dikenal memiliki rekam jejak kuat dalam pemberantasan premanisme serta penegakan hukum.
Dihimpun dari berbagaisumber, Hengki Haryadi memiliki riwayat jabatan strategis, seperti menjabat sebagai Wakapolda Riau, jabatan sebelum ditunjuk menjadi Kapolda Papua Barat Daya.
Ia juga pernah mengembangkan tugas sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya, yang memimpin berbagai pengungkapan kasus kriminal besar di ibu kota.
Dalam perjalanan kariernya Hengki Haryadi juga pernah menjadi Kapolres Metro Jakarta Pusat, dalam menjaga keamanan di pusat kota Jakarta. Kemudian sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, yang dikenal saat memimpin penangkapan terhadap kelompok preman pimpinan Hercules sebanyak dua kali.
Selain itu, ia juga pernah memengan posisi
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, dengan prioritas memimpin pengamanan di kawasan pelabuhan penting.
Secara jejak, ia dikenal berkat ketegasannya dalam meringkus aksi premanisme kelas kakap di wilayah hukum Jakarta.(*)
Quotes Populer
1. "Keadilan harus ditegakkan sebagai dasar dari sistem hukum, jika tidak, hukum hanya akan menjadi sarana penindasan."
2. Mimbar dari Cahaya: "Nabi SAW bersabda bahwa orang yang adil berada di sisi kanan Allah di atas mimbar dari cahaya". - (HR. Muslim).
3. “Seseorang yang berani membuang satu jam waktunya tidak mengetahui nilai dari kehidupan.” - Charles Darwin.
4. "Tugas politik yang menyedihkan adalah menegakkan keadilan di dunia yang penuh dosa." - Reinhold Niebuhr
5. "Keadilan adalah kapasitas untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang lebih buruk atau lebih baik." [*]










